Oleh Faraz ‘Plenger’ nagita Ghifari
Layaknya seorang pejuang, tabah memang tiada akhirnya. Itu kami rasakan ketika kegiatan Diklatsar dilakukan. Minggu merupakan hari pertama kami ditempa. Perjalanan dimulai dengan harapan baik dan doa-doa oleh masing – masing individu. Kami mulai menuju tempat pertama kami dididik, yaitu di sekitar Gua Pawon, Padalarang. Gua Pawon ini merupakan jenis gua karst di perbukitan gamping. Secara bahasa, Pawon berasal dari bahasa Sunda, yang artinya dapur. Dahulu manusia purba menyimpan peralatan masak di dalam gua ini, dan karena itulah gua ini dinamakan Gua Pawon. Tak banyak berbeda dengan cerita-cerita seorang mapala lainnya, kami mendirikan bivak semi alam, yaitu gabungan dari daun-daun dan ranting, juga ponco. Di sana kami diuji, cara membuat bivak sedemikian rupa namun harus kami buat secara tepat. Karena cuaca saat itu memang tak bisa diprediksi, hujan bisa turun tiba- tiba. Di malam hari, kami menikmati kegelapan abadi di Gua Pawon. Kami diberi amunisi berupa kata – kata dan motivasi, yang mana saat itu sangat menyemangati hati kami. Ditemani lilin dan riuhnya kelelawar di malam hari, kami benar – benar menikmati kegelapan malam itu.
Di hari kedua, kami melakukan kegiatan rock climbing dan caving dan speleologi. Memang ini adalah pengamalan pertamaku untuk mencoba hal tersebut. Ada sedikit rasa takut ketika sudah berada di ketinggian, tapi begitulah hidup. Jangan takut pada ketinggian, karena hidup tak selamanya menempatkan kita di bawah.
Kami bersiap untuk melakukan mobilisasi ke kawasan Panaruban, Subang. Tak berangkat dengan tas keril kosong, kami membongkar bivak dan kembali mempacking ulang isi keril. Disini sangat dibutuhkan keterampilan manajemen packing agar isi keril optimal dan melindungi isi dalamnya. Sesampainya di Panaruban, kami pemanasan terlebih dahulu, dan membalur kaki kami dengan minyak komando. Buat kalian yang belum tau apa itu minyak komando, jadi minyak komando merupakan campuran antara minyak dan irisan bawang goreng. Cara penggunaan minyak komando ini adalah dengan dioles di kaki, fungsinya adalah untuk menghindari lecet ataupun terjadinya infeksi-infeksi seperti mata ikan.
Sama seperti di Gua Pawon, untuk tempat tinggal kami menggunakan bivak semi alam. Namun kami mendapat tantangan di Panaruban. Kawasan yang kami tempati mayoritas bebatuan. Kami kebingungan untuk mendirikan bivak seperti apa. Kemudian instruktur datang dan memberi arahan kepada kami. Untuk kawasan Panaruban ini berbeda dengan Gua Pawon. Panaruban adalah kawasan hutan hujan tropis. Seringkali turun hujan di sana. Untuk kawasan Panaruban, materi yang kami dapat adalah simulasi penyelamatan korban, IMPK, survival.
Di materi penyelamatan korban, kami diberi simulasi yang mengharuskan kami menyelamatkan korban dengan beberapa cedera yang dialami. Materi IMPK mengharuskan kami untuk mencari posisi kita saat itu. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita harus membayangkan titik apa yang harus diambil. Menurut saya, perlunya latihan yang intens. Karena jujur saja, apabila jarang latihan maka akan sangat sulit mencari posisi kita. Sebagai seorang penjelajah alam, IMPK ini sangat penting. Karena bagaimanapun kegiatan mayor kita adalah di alam. Semesta tidak selalu menjanjikan keselamatan bagi kita, tak juga menjanjikan jalan yang lurus bagi kita. Maka dari itu, perlunya pengetahuan mengenai bagaimana penggunaan kompas ketika berkegiatan di alam. Selanjutnya adalah survival. Mengharuskan kita untuk mencari makanan dari alam. Alam memang memberikan banyak manfaat kepada manusia, tinggal bagaimana kita memperlakukan alam tersebut. Kami memanfaatkan rebung, gedebong pisang, udang sungai sebagai makanan di hari hari terakhir. Kami membuat jerat ayam dan ikan untuk mendapatkan daging-dagingan. Alhamdulillah, jerat ayam berhasil dilakukan. Seekor ayam masuk kedalam jerat.
Penutupan sudah di depan mata. Belasan kilometer kami tempuh. “TABAH TIADA AKHIR SAUDARAKU”, ucap satu sama lain. Kata-kata semangat sudah sering diucapkan dari mulut ke mulut. Kurang lebih pukul 19.00, kami tiba di UPI, tempat dimana kami dilantik sebagai anggota muda JANTERA. Suara petasan, gema ria seluruh anggota muda dan keluarganya, teman- temannya, kerabatnya mulai bersorak-sorai. Malam itu bertepatan di UPI, hari Sabtu tanggal 24 Januari 2026, 13 pejuang tangguh yang terdiri dari Rahma, Gea, Moses, Safa, Velsya, Faidra, Sausan, Meisya, Farhan, Nahda, Faraz, Jajang, Azri, resmi dilantik menjadi anggota JANTERA. Kami memegang betul prinsip terbentur, terbentur, terbentuk. Bukan seberapa kali kita gagal.
Tetapi seberapa kali kita jatuh kemudian bangkit kembali.
TABAH TIADA AKHIR, JAN! BRAVOOOO!!!!!
0 Comments