Ditulis oleh Dhafin “Bekbon” Fadhlur R J.42 | Disunting oleh Diki “Hebu” Lukman N S J.40
Pada tanggal 24 April 2024, Jantera merayakan ulang tahunnya yang ke-47. Untuk memperingati momen tersebut, berbagai kegiatan direncanakan untuk menyemarakkan acara. Salah satu kegiatan yang dipilih adalah panjat tebing di Gunung Parang, Purwakarta, yang melibatkan senior kami, Kadat Angga (Sule) dan A. Feri (Monyong), yang selalu siap memberikan dukungan dan pendampingan kepada adik-adiknya. Namun, agar perayaan ini lebih bermakna, kami merasa bahwa hanya melakukan panjat tebing saja tidak cukup. Oleh karena itu, anggota aktif Jantera, bersama senior dan dosen Geografi FPIPS UPI, A. Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Sc., merencanakan untuk melakukan penelitian di sekitar Gunung Parang. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan artikel ilmiah yang dapat berkontribusi pada ilmu pengetahuan, dengan dukungan penuh dari A. Nusan Mauli Pranata, S.Pd., laboran Geografi FPIPS UPI, yang juga merupakan salah satu senior kami.
Untuk mempersiapkan kegiatan ini dengan matang, serangkaian rapat, bimbingan, dan latihan dilakukan. Tim dibagi menjadi dua kelompok: tim panjat tebing dan tim penelitian. Saya, bersama Kadat Ilfa ‘Tilap’ dan saudaraku Rifqi ‘Sireja’, tergabung dalam tim panjat tebing. Kami bersama Kadat Sule, A. Feri, dan Fajar menjadi tim pertama yang berangkat menuju lokasi. Persiapan dimulai pada pagi hari tanggal 18 April 2024 di Skygers Ciumbuleuit, di mana alat-alat yang dibawa didistribusikan ke setiap motor untuk membagi beban. Setelah pembagian beban selesai, perjalanan dimulai sekitar pukul 10 pagi.
Perjalanan terasa menyenangkan dengan cuaca pagi yang cerah. Kami melewati jalan-jalan dari Gerlong, Sariwangi, Cimahi, hingga terjebak kemacetan di Padalarang. Kemacetan tersebut membuat rombongan kami terpisah cukup jauh. Saya berada di depan dan memutuskan untuk berhenti sejenak untuk makan siang sambil menunggu rombongan yang tertinggal. Setelah selesai makan, Rifqi belum juga menyusul. Saya menunggu cukup lama, namun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Keheranan mulai muncul, mengapa Rifqi memerlukan waktu begitu lama. Ketika saya sampai di Plered, saya mendapat kabar bahwa motor Rifqi mogok. Terkejut, namun saya berusaha berpikir positif dan menyarankan Rifqi untuk mendorong motornya ke bengkel terdekat. Setelah tiba di bengkel, kami mengetahui bahwa olinya habis dan motor tersebut harus turun mesin. Posisi kami terpisah sejauh 11 km, sehingga saya memutuskan untuk memutar arah dan menjemput Kadat Ilfa serta Rifqi.
Foto: Dhafin “Bekbon” F
“Motornya harus menginap di sini,” ujar montir di bengkel tersebut. Kami pun segera meminta bantuan Kadat Sule untuk menjemput agar perjalanan bisa dilanjutkan. “Biaya untuk turun mesin 800 ribu ya,” tambahnya. Meskipun merasa kecewa dengan kabar tersebut, Rifqi berusaha untuk tetap tegar, dan kami melanjutkan perjalanan. Normalnya, perjalanan menuju Gunung Parang memakan waktu sekitar 3 jam, namun insiden tersebut menyebabkan kami terlambat selama 3 jam. Kami berangkat pukul 10 pagi dan akhirnya sampai di Gunung Parang sekitar pukul 4 sore, dengan cuaca yang sudah mendung dan tanda-tanda hujan.
Sesampainya di sana, kami menginap di rumah Mang Suher, yang ternyata adalah ayah dari teman seangkatan Kadat Sule dan A. Feri di sekolah panjat tebing Skygers. Kedatangan kami disambut hangat dengan jamuan makanan. Rencana awal untuk memasang tali terpaksa ditunda karena hujan deras yang turun. Sembari menunggu hujan reda, kami menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Mang Suher dan istrinya. A. Feri mengatur pembagian alat panjat agar semua perlengkapan bisa terbagi rata. Malam harinya, kami bergerak menuju Tebing Gunung Parang untuk menyimpan alat dan mulai memasang tali sedikit demi sedikit. Saya, Rifqi, Fajar, Kadat Ilfa, Kadat Sule, dan A. Feri melangkah menembus hutan dengan hanya mengandalkan headlamp sebagai penerang jalan. Setibanya di lokasi tebing, Fajar segera bersiap untuk memasang tali.
Pemanjatan malam hari dengan kondisi tebing yang basah akibat hujan sore itu cukup menantang. Pada malam itu, Fajar hanya berhasil memasang dua pitch tali. Pitch adalah jarak antara satu panjang tali dengan panjang tali berikutnya. Waktu terus berlalu, dan malam semakin larut, sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan pemanjatan keesokan harinya. Sebelum beristirahat, kami mengadakan diskusi untuk menyusun rencana kegiatan untuk hari berikutnya.
Pagi hari, adzan subuh berkumandang. Kadat Sule, A. Feri, dan Fajar bersiap menuju tebing untuk melanjutkan pemasangan tali. Sementara itu, saya, Rifqi, dan Kadat Ilfa tidak ikut ke tebing untuk memasang tali. Pagi itu, kami berfokus pada survei dan plotting ke beberapa tempat wisata untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Siang harinya, kami kembali menyusul ke tebing. Selama berkeliling, kami terus memantau perkembangan tim yang sedang memasang tali dari kejauhan.
Siang hari, setelah menyelesaikan survei di beberapa lokasi, kami akhirnya menyusul ke tebing. Kadat Sule memberi instruksi untuk membawa galon 15 liter, yang ternyata menjadi tantangan tersendiri. Membawa galon seberat itu melalui trek yang terjal dan licin sangatlah sulit, sehingga kerjasama tim sangat dibutuhkan untuk dapat mencapainya. Sambil menunggu pemasangan tali selesai, kami memanfaatkan waktu untuk beradaptasi dengan mencoba memanjat di area pitch pertama. Saya mencoba menaiki beberapa meter pertama dan berhenti sejenak untuk memotret pemandangan sekitar. Dari ketinggian tersebut, saya bisa melihat Waduk Jatiluhur yang terhampar jauh di sana, pemukiman sekitar Gunung Parang, bahkan rumah Mang Suher yang tampak kecil di kejauhan. Pemandangan tersebut memberi saya semangat baru dan membangkitkan rasa percaya diri. Meskipun masih berada di ketinggian yang relatif rendah, sensasi luar biasa itu mengingatkan saya akan pengalaman-pengalaman seru lainnya yang akan kami nikmati di puncak gunung nanti.
Pada sore hari, langit mulai mendung, dan kami segera bergerak cepat untuk memasang flysheet guna melindungi diri serta alat-alat dari hujan yang mulai tampak mengancam. Kebetulan, tim yang bertugas memasang tali sudah dalam perjalanan turun. Kami merasa beruntung, karena manajemen waktu yang baik membuat hujan baru turun setelah seluruh anggota tim pemasang tali sudah tiba dan berlindung di bawah flysheet. Ini merupakan pengalaman pertama saya merasakan hujan deras di tepi tebing. Tebing batu andesit yang kami hadapi tidak memiliki zona resapan air, sehingga air hujan langsung mengalir deras dari puncak ke bawah, menciptakan aliran runoff yang besar. Seiring dengan hujan, tebing pun seketika berubah menjadi seperti air terjun. Permukaan tempat kami berlindung pun tergenang air akibat runoff yang mengalir begitu deras dari puncak.
Setelah hujan reda, kami segera bergegas turun agar tidak terjebak kegelapan hutan. Sesampainya di rumah Mang Suher, kami membersihkan diri dan, seperti biasa, melanjutkan diskusi malam untuk merencanakan kegiatan esok hari. Pada hari berikutnya, kami akan memanjat menuju puncak Gunung Parang.
Pagi datang, bersamaan dengan kedatangan anggota Jantera lainnya, baik yang akan melakukan penelitian maupun yang hanya sekadar datang untuk menyaksikan. Perjalanan sesungguhnya dimulai. Kami memulai pendakian dengan tubuh penuh peralatan panjat yang tergantung di tubuh masing-masing. Dengan penuh semangat, kami melangkah, tak sabar untuk meniti tali hingga mencapai puncak. Pemanjatan dengan metode ascending ternyata lebih menguras tenaga kaki dibandingkan dengan pemanjatan sport atau tradisional, karena seluruh beban tubuh bergantung pada kaki, sementara tangan hanya berfungsi untuk mendorong alat. Terik matahari yang menyengat membuat tenggorokan terasa kering. Namun, jarak yang jauh dan waktu pendakian yang panjang memaksa kami untuk menghemat persediaan air agar bisa bertahan hingga puncak.
Selama perjalanan, ada beberapa pitch yang bisa digunakan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati pemandangan sekitar dengan tenang. Sembari menunggu tali aman untuk dipakai, saya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, menikmati pemandangan sekitar, dan memakan cemilan yang dibawa.
Keberangkatan yang terlambat memberi dampak besar pada perjalanan pemanjatan kami. Melihat waktu yang semakin siang dan langit yang mulai gelap, kami memutuskan untuk membatasi perjalanan hanya sampai pitch 7. Jika kami berangkat lebih pagi, puncak pasti bisa dicapai. Namun, dalam panjat tebing, fokus tidak hanya pada mencapai puncak atau memenuhi ego pribadi, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Pitch 7 menjadi titik terakhir kami dalam pemanjatan. Seperti yang diperkirakan, hujan turun cukup deras, dan kami segera berlindung di bawah flysheet. Beruntung, pitch 7 memiliki area teras yang cukup luas, sehingga memungkinkan kami untuk mendirikan flysheet dan berkumpul dengan aman di sana. Ketika hujan reda, kami mulai turun satu per satu. Perjalanan turun cukup sulit karena batuan yang licin akibat hujan, membuat kaki sering terpeleset. Setelah semua anggota tim turun dengan selamat, kami membersihkan dan membagi tali yang terpasang agar bisa dibawa kembali ke rumah Mang Suher.
Sesampainya di rumah Mang Suher, kami disambut oleh anggota Jantera lainnya yang telah menyelesaikan survei penelitian, serta beberapa senior yang datang. Suasana yang akrab dan penuh kehangatan pun tercipta, dan kami memanfaatkan momen ini untuk makan bersama. Setiap kegiatan Jantera selalu terasa penuh kebersamaan dan kekeluargaan.
Malam tiba, campur aduk kantuk dan letih juga pikiran yang semakin rancu mengingat banyak rutinitas yang harus dilakukan di hari-hari depan. Kami bergegas pulang, berkumpul kembali di sekretariat Jantera dan memastikan semua dapat pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan aman jaya.
0 Comments