Catatan Perjalanan
Menelusuri perut bumi
Pagi itu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun waktu Indonesia JANTERA masih menunjukkan pukul 04.00, sehingga penghuni sekre JANTERA belum menampakkan kehidupan. Suara gresak-grusuk tim pendahulu yang sedang menyiapkan peralatan caving tidak menjadi gangguan untuk mimpi para penghuni sekre. Baru setelah pukul 09.00 WIB, saya, Ali, Kak Novi dan A Read more…
Sastra
Suara Rakyat
Di Banten Selatan…
Ada sebuah desa nan jauh dan kumuh
Berpuluh kilometer jarak di tempuh
Kaki berpijak kulit berlumpur
Bak prajurit yang bertempur
Catatan Perjalanan
Aku padamu putri
Ada banyak pernyataan ketika individu berjalan menuju puncak gunung. Ada orang yang pergi ke gunung untuk berwisata menghabiskan waktu kosong dengan menyegarkan pikiran. Ada yang pergi ke gunung karena tuntutan organisasi, semacam ekspedisi. Ada orang yang pergi ke gunung untuk eksistensi dirinya sendiri, agar orang lain tahu dia pernah kesana. Ada orang yang pergi ke gunung karena penasaran terhadap cerita tentang gunung, semacam mitos, yang diceritakan rekannya atau pemandangan panorama yang megah. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari ilmu dan pengetahuan atau meneliti. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari teman. Ada orang pergi ke gunung untuk menaklukan dirinya sendiri, entah apa yang ditaklukan, emosi kah ? fisik kah ? mental kah ? pikiran kah ? Perbedaan alasan tersebut menghasilkan suatu petualangan yang subjektif. Tidak usah pergi ke gunung untuk menyatakan pernyataan tersebut cukup memperhatikan kehidupan sekitar maka akan terasa pernyataannya. Pergi ke gunung hanyalah suatu cara agar kita dapat merasakan masing-masing pernyataan di dalam diri. Pergi ke gunung hanyalah alat penayang simulasi kehidupan, tetapi berlaku bagi orang yang berfikir.
Orang bilang ketika naik gunung, sifat aslinya akan keluar. Pada dasarnya manusia akan terlihat sifat aslinya ketika dalam tekanan, apalagi tekanan kehidupan yang keras. Begitupun sama halnya dengan naik gunung. Kaki berpijak, puncak di junjung, melewati lembah, melewati tanjakan menyebabkan tekanan alami dirasakan para penggiat gunung. Para penggiat gunung atau lebih popular lagi disebut pendaki gunung akan terlihat sifat aslinya karena mendapat tekanan. Tidak perlu naik gunung untuk melihat karakter seseorang, cukup dengan bersama-sama setiap harinya dan melihat orang tersebut ketika dalam tekanan kehidupan. Naik gunung hanyalah simulasi kecil dari kehidupan. Petualangan sebenarnya adalah kehidupan.
Bincang
Sejarah Topi Lapangan
Istilah topi dalam bahasa Indonesia berakar dari bahasa Urdu atau bahasa Hindi. Dua istilah bahasa yang sebenarnya merujuk pada satu bahasa yang sama yang terpisahkan identitas modern Pakistan dan India. Awalnya, kedua bahasa itu hanya disebut dengan satu istilah saja, yakni bahasa Urdu. Yakni suatu cabang termuda dari rumpun bahasa Indo-Aria (Hindustan). Sementara rumpun bahasa Indo-Aria sendiri adalah rumpun bahasa yang biasa diidentikkan dengan bahasa Sangsekerta, yang menjadi cabang tertuanya dan dikenal melalui bahasa tertulisnya dalam kitab Weda. Sebagaimana umumnya pada semua cabang bahasa Indo-Aria, maka bahasa Urdu juga sangat dipengaruhi oleh bahasa Sangsekerta sebagai lapisan dasar kebahasaannya.
Namun demikian, pada tahap selanjutnya bahasa Urdu mengalami pembauran dengan berbagai bahasa lainnya di luar rumpun bahasa Indo-Aria. Misalnya dengan bahasa Parsi dari rumpun bahasa Indo-Iran yang masih berkerabat dekat dengan rumpun bahasa Indo-Aria; bahasa Turki dari rumpun bahasa Turkis yang identik dengan bahasa dari suku-suku Iranian-Saka (Scytia); dan bahasa Arab dari rumpun bahasa Semit, yang secara kekerabatan dianggap terpisahkan jauh dari keluarga besar rumpun bahasa Indo-Eropa. Sehingga ada kemungkinan jika istilah topi yang terdapat dalam bahasa Urdu, sebenarnya berakar dari bahasa Arab, thaqiyah. (lebih…)
Bincang
Tentang Engkreg dan Ngalubang
Berada di Kabupaten Sukabumi, Cikarang tak ubahnya sebuah desa pada umumnya, sejauh mata memandang bukit-bukit anggun terbentang dengan sawah terhampar di kiri kanan jalanannya. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Sinarbentang di utaranya, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Hegarmulya, Desa Cidadap menjadi batas di sebelah timurnya, dan dua desa di sebelah baratnya yaitu Desa Cipamingkis dan Desa Mekarjaya menggenapkannya menjadi sebuah wilayah di salah satu Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cidolog tepatnya.
Adzan maghrib bersahut-sahutan, melantunkan nada yang mendesirkan hati setiap orang. Langit di ufuk barat berwarna keemasan sesekali tertutup awan yang beriringan. Dengan anggunnya, lambat laun sinar mentari seakan hilang ditelan bumi, digantikan sinar rembulan dihiasi gemintang di sekitarnya. Polusi cahaya yang rendah di wilayah ini memungkinkan kita melihat dengan jelas eloknya langit malam. (lebih…)

