Oleh : Indri Megantara Putri (AM 38 Jantera)

Menjadi anggota muda pecinta alam (PA) adalah suatu hal yang layak untuk dirayakan, sebagaimana tradisi menyambut keluarga baru. Kekeluargaan yang erat dan solid merupakan identitas yang tidak dapat dipisahkan dari pecinta alam. Namun, belum lengkap rasanya bila lingkaran kekeluargaan ini hanya terbatas pada internal organisasi saja.
Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam Universitas Pendidikan Indonesia atau dikenal FKPPA-UPI mengadakan Temu Wicara Anggota Muda (TWAM) sebagai wadah bagi anggota muda (AM) untuk saling mengenal. Dilaksanakan pada 23-24/03/19 di Bukit Tunggul, Cilengkrang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini melibatkan perhimpunan mahasiswa pecinta alam dari Kampus Bumi Siliwangi, Kampus Daerah Sumedang, Kampus Daerah Cibiru, Kampus Daerah Serang dan Sispala SMA Labschool UPI.
AM berkumpul di sekre KPALH Gandawesi lalu berangkat setelah adzan dzuhur berkumandang. Keberangkatan terbilang ngaret dari rencana awal yaitu pukul 10.00 WIB. Sebagian AM berangkat menggunakan angkot dan sisanya mencari tebengan motor. Dengan motor bebeknya Nindi ‘Bencong’ menembus jalanan Bukit Tunggul yang terjal berkelok juga licin. Kondisi jalan yang tidak bersahabat ini setidaknya membuat Wina ‘Anyun’ dan Noer ‘Mengi’ sempat terjatuh dari motor yang dikendarainya, beruntung mereka baik-baik saja.
Berjabat tangan dan menyebutkan nama menjadi cara yang ampuh untuk membuka obrolan ketika bertemu dengan saudara dari PA lain. Tawa lepas memecah ketenangan padang rumput ketika Indah ‘Kopét’ bercerita tentang nama rimba yang didapatkannya karena intensitas pengeluaran ampas hasil metabolisme yang tidak dibutuhkan selama pendidikan dasar lebih tinggi dari saudaranya yang lain.

Sebuah permainan ringan membuka jalan persaudaraan. AM dibagi menjadi empat kelompok besar yang tercampur antara laki-laki dan perempuan. Mari berkenalan dengan kami, Kelompok dua yang beranggotakan 15 orang yaitu: Ashlah ‘SBTik’ (Jantera), Siti ‘Siro’ (Pamor), Adzmi ‘Kuda’ (Biocita), Renata ‘Casper’ (Sispakala), Bayu ‘Buyung’ (Gandawesi), Dhini ‘Jedag’ (Akmapala), Kia ‘Kayas’ (Rimbawana), Rizky ‘Tojos’ (Mapach), Panji ‘Bisvack’ (Amepa Boemi), Akbar ‘Larva’ (Sispakala), Dimas ‘Alek’ (Mapad Purpala), Firmansyah ‘Duhi’ (Pamor), Rafli ‘Clergo’ (Khauf), Eci (Pamor) dan Indri ‘Bakti’ (Jantera).
Perut bergemuruh dan bahan makanan menanti untuk dimasak. Kompor yang terbatas mendorong Renata ‘Casper’ untuk membuat tungku dengan menggali tanah, sementara Adzmi ‘Kuda’ mengambil air untuk memasak. Nasi hampir matang tetapi kekurangan air dan si Azmi ‘Kuda’ belum kembali. Alek mengambil air di tenda dan kejadian lucu bermula disini. Ia datang dengan botol air terbungkus plastik dan label kemasan mengambang di dalam botol, sedikit meragukan.
Alek menuangkan air kedalam nesting berisi nasi hampir matang dan wuusshh api menyambar tepat di depan wajah kemudian bau rambut terbakar mulai tercium, ternyata sebotol spirtus. Alis Bakti yang malang, beruntung hanya sedikit. Sebuah nama baru baginya, Asep (Alek Sepirtus). Demi kelangsungan hidup bersama dengan sangat terpaksa nasi spirtus itu keluar dari menu makan malam.
Langit semakin gelap, beberapa mulai shalat maghrib dan bersiap untuk makan. Setiap AM langsung mengerti dengan duduk standar satu, cara makan khas selama pendidikan dasar pecinta alam dengan tangan silang siur mencomot nasi dan lauk yang beragam. Setelah perut terisi, kegiatan berlanjut dengan diskusi ringan di dalam tenda membahas nama kelompok. Dwispir adalah nama yang tercetus ditengah keheningan memikirkan nama yang unik, perpaduan dari kata dwi yang berarti dua dan spir dari kata spirtus.
Malam semakin dingin dan bara api unggun melengkapi kegiatan diskusi dalam hangatnya lingkaran persaudaraan. Kang Mullder (Pamor) membuka acara diskusi malam ini dengan perkenalan singkat setiap organisasi pecinta alam. Diwakili Ketua Adat Yanfa’u, Jantera sebagai organisasi pecinta alam tertua di UPI diperkenalkan kepada anggota muda yang lain. Dari beberapa perkenalan ada kata-kata menarik yang disampaikan oleh Kang Ihda ketua adat Gentrapala, ia menuturkan “Kita tidak hanya hablum min-Allah, hablum min-annas tapi juga hablum min-al-alam.”
Membahas sejarah pecinta alam diskusi dilanjutkan oleh pemantik dari Kang Boby (Ganjamara). “Kita bukan hanya penikmat alam tapi pecinta alam yang memiliki tanggung jawab dan peran lebih,” tuturnya. Suara jangkrik bersanding dengan lagu berjudul Petualangan dari Fiersa Besari yang dibawakan oleh senior Mapad Purpala. Beberapa lagu tentang keluh kesah seorang pecinta alam begitu akur dengan petikan gitar dan angin yang berembus.
Diskusi berlanjut bersama pemantik dari Sekjen FKPPA membahas sejarah, tujuan dan program FKPPA-UPI. Kang Yan Mahdi (Mapach) menutup diskusi malam dengan sebuah puisi “…kini kita berdiri di bumi yang sakit, lalu dimana lagi kita berdiri di bumi yang asri. Semoga kita tetap saling peduli.” Ramainya malam itu belum berakhir, nyanyian bersahutan bersama nyala api unggun lalu hujan turun mengantar setiap orang ke tendanya.
Hangat persaudaraan yang terjalin mengalahkan dinginnya minggu pagi di Bukit Tunggul. Namun sayang beberapa orang AM harus pulang lebih awal, berebut raga dengan jatah tutorial. Mengutip kata-kata Kang Anyo “Jika kita tidak mencintai alam maka kita akan berjarak dengan alam”. Semoga persaudaraan ini akan terus terjalin, bersama alam juga manusia.
Panjang umur persaudaraan! Salam Lestari! []
Redaktur: Ika Kartikasari (J.349.35.AAS)
0 Comments