Ditulis oleh Sheren “Brusli” Siti S (J.42) | Disunting oleh Diki “Hebu” Lukman NS (J.40)
Biasanya, kegiatan bermain dan jalan-jalan dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengusir kebosanan. Namun, hal ini berbeda dengan Jantera, yang memanfaatkan momen bermain sebagai kesempatan untuk menyelami dan memahami alam lebih dalam melalui penelitian. Dengan pendekatan ini, setiap aktivitas yang dilakukan bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana untuk mengkaji dan memperoleh pengetahuan tentang lingkungan sekitar.
Penelitian yang telah direncanakan dengan cermat dan penuh antusias oleh Anggota Muda (AM) Jantera 42 bersama Anggota Utama (AU) Jantera 41, dengan bimbingan dari Pak Haikal dan Pak Nusan, merupakan upaya kolaboratif yang penuh semangat. Penelitian ini berfokus pada aktivitas panjat tebing, yang tidak hanya mengkaji aspek pariwisata, tetapi juga melibatkan studi tentang vegetasi dan potensi bencana. Semua kajian ini dikemas dalam bentuk artikel ilmiah, menjadikan perjalanan penelitian ini sarat dengan makna dan wawasan yang berharga.
Pada tanggal 20 April, kami melaksanakan penelitian dan ekspedisi di Tebing Parang. Keberangkatan kami dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama berangkat setelah kegiatan Reboan dan menginap di Punclut, tepatnya di Skygers, untuk koordinasi dan persiapan peralatan. Kloter ini terdiri dari saya, Sod Dhafin, Sod Rifqi, Kadat Ilfa, Kadat Sule, dan beberapa senior lainnya, sementara sebagian anggota lainnya mengalami kendala dan akan menyusul pada kesempatan berikutnya.
Pada Kamis sore, sekitar pukul 5, kloter kedua mulai mempersiapkan keberangkatan. Saya bersama Sod Rio, Sod Kiya, Teh Rahma, Teh Nana, dan Teh Galin naik mobil yang dikendarai oleh A Nusan. Kami tiba di Jatiluhur sekitar pukul 9 malam dan menginap di rumah A Nusan, di mana kami juga menikmati makan malam bersama dengan sate maranggi. Pada pagi hari, sekitar pukul 6, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Parang untuk bergabung dengan kloter pertama.
Setibanya di lokasi, kami mengadakan briefing dan membagi tim menjadi dua, yaitu tim ekspedisi tebing dan tim penelitian. Karena saya berada di tim penelitian bersama beberapa rekan, kami langsung melakukan pengecekan lokasi (ground checking) di plot yang sudah disiapkan. Ground checking dilakukan secara bersamaan, namun terpisah, sesuai dengan pembagian tugas. Setelah selesai, kami meluangkan waktu untuk berjalan-jalan dan berinteraksi dengan warga setempat. Sekitar pukul 7 malam, kami memulai perjalanan pulang ke Bandung.
Penelitian ini disusun sebagai hasil dari ekspedisi yang kami lakukan, dengan tujuan agar informasi yang kami dapatkan dapat dibaca dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
0 Comments