Sastra
Suara Rakyat
Di Banten Selatan…
Ada sebuah desa nan jauh dan kumuh
Berpuluh kilometer jarak di tempuh
Kaki berpijak kulit berlumpur
Bak prajurit yang bertempur
Di Banten Selatan…
Ada sebuah desa nan jauh dan kumuh
Berpuluh kilometer jarak di tempuh
Kaki berpijak kulit berlumpur
Bak prajurit yang bertempur
Ada banyak pernyataan ketika individu berjalan menuju puncak gunung. Ada orang yang pergi ke gunung untuk berwisata menghabiskan waktu kosong dengan menyegarkan pikiran. Ada yang pergi ke gunung karena tuntutan organisasi, semacam ekspedisi. Ada orang yang pergi ke gunung untuk eksistensi dirinya sendiri, agar orang lain tahu dia pernah kesana. Ada orang yang pergi ke gunung karena penasaran terhadap cerita tentang gunung, semacam mitos, yang diceritakan rekannya atau pemandangan panorama yang megah. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari ilmu dan pengetahuan atau meneliti. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari teman. Ada orang pergi ke gunung untuk menaklukan dirinya sendiri, entah apa yang ditaklukan, emosi kah ? fisik kah ? mental kah ? pikiran kah ? Perbedaan alasan tersebut menghasilkan suatu petualangan yang subjektif. Tidak usah pergi ke gunung untuk menyatakan pernyataan tersebut cukup memperhatikan kehidupan sekitar maka akan terasa pernyataannya. Pergi ke gunung hanyalah suatu cara agar kita dapat merasakan masing-masing pernyataan di dalam diri. Pergi ke gunung hanyalah alat penayang simulasi kehidupan, tetapi berlaku bagi orang yang berfikir.
Orang bilang ketika naik gunung, sifat aslinya akan keluar. Pada dasarnya manusia akan terlihat sifat aslinya ketika dalam tekanan, apalagi tekanan kehidupan yang keras. Begitupun sama halnya dengan naik gunung. Kaki berpijak, puncak di junjung, melewati lembah, melewati tanjakan menyebabkan tekanan alami dirasakan para penggiat gunung. Para penggiat gunung atau lebih popular lagi disebut pendaki gunung akan terlihat sifat aslinya karena mendapat tekanan. Tidak perlu naik gunung untuk melihat karakter seseorang, cukup dengan bersama-sama setiap harinya dan melihat orang tersebut ketika dalam tekanan kehidupan. Naik gunung hanyalah simulasi kecil dari kehidupan. Petualangan sebenarnya adalah kehidupan.
Istilah topi dalam bahasa Indonesia berakar dari bahasa Urdu atau bahasa Hindi. Dua istilah bahasa yang sebenarnya merujuk pada satu bahasa yang sama yang terpisahkan identitas modern Pakistan dan India. Awalnya, kedua bahasa itu hanya disebut dengan satu istilah saja, yakni bahasa Urdu. Yakni suatu cabang termuda dari rumpun bahasa Indo-Aria (Hindustan). Sementara rumpun bahasa Indo-Aria sendiri adalah rumpun bahasa yang biasa diidentikkan dengan bahasa Sangsekerta, yang menjadi cabang tertuanya dan dikenal melalui bahasa tertulisnya dalam kitab Weda. Sebagaimana umumnya pada semua cabang bahasa Indo-Aria, maka bahasa Urdu juga sangat dipengaruhi oleh bahasa Sangsekerta sebagai lapisan dasar kebahasaannya.
Namun demikian, pada tahap selanjutnya bahasa Urdu mengalami pembauran dengan berbagai bahasa lainnya di luar rumpun bahasa Indo-Aria. Misalnya dengan bahasa Parsi dari rumpun bahasa Indo-Iran yang masih berkerabat dekat dengan rumpun bahasa Indo-Aria; bahasa Turki dari rumpun bahasa Turkis yang identik dengan bahasa dari suku-suku Iranian-Saka (Scytia); dan bahasa Arab dari rumpun bahasa Semit, yang secara kekerabatan dianggap terpisahkan jauh dari keluarga besar rumpun bahasa Indo-Eropa. Sehingga ada kemungkinan jika istilah topi yang terdapat dalam bahasa Urdu, sebenarnya berakar dari bahasa Arab, thaqiyah. (lebih…)
Berada di Kabupaten Sukabumi, Cikarang tak ubahnya sebuah desa pada umumnya, sejauh mata memandang bukit-bukit anggun terbentang dengan sawah terhampar di kiri kanan jalanannya. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Sinarbentang di utaranya, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Hegarmulya, Desa Cidadap menjadi batas di sebelah timurnya, dan dua desa di sebelah baratnya yaitu Desa Cipamingkis dan Desa Mekarjaya menggenapkannya menjadi sebuah wilayah di salah satu Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cidolog tepatnya.
Adzan maghrib bersahut-sahutan, melantunkan nada yang mendesirkan hati setiap orang. Langit di ufuk barat berwarna keemasan sesekali tertutup awan yang beriringan. Dengan anggunnya, lambat laun sinar mentari seakan hilang ditelan bumi, digantikan sinar rembulan dihiasi gemintang di sekitarnya. Polusi cahaya yang rendah di wilayah ini memungkinkan kita melihat dengan jelas eloknya langit malam. (lebih…)
Celoteh cakrawala bersenda gurau dari atap puncak yang bersembunyi di balik awan,
diatas rerimbunan dan terjalanya akar pada jalanan yang melintang,
pada batas rona jingga yang terbias kala senja,
pada tangkai-tangkai daun teh yang terbentang memberi sapaan,
pada aspal yang tak utuh memanjang hingga tepat sebelum pintu rimba,
pada kicau burung dan derit ranting yang saling bergesekan,
pada semangat dan iming-iming surga,
dan akhirnya pada semuanya aku bercerita,
Katanya, ini DPR. Tapi bukan tempat para dasi bertikus duduk dan merapatkan problematika negara dengan tumpang kaki, dahi berkerut, dan senyum samar. Bukan, ini bukan Senayan! Ini DPR yang lain, sebaliknya.
Ini DPR yang sesak oleh pemuda-pemudi riang yang serba ingin tau. Ini DPR, yang katanya Dibawah Pohon Rindang. Ini DPR yang selalu menghadiahkan tawa di hari-hari penghuninya. Ini DPR yang lain, yang katanya Dibawah Pohon Rindang.
Sebenarnya saya tidak tahu dengan pasti kapan DPR ini resmi jadi sekre outdoor-nya Jantera. Oh iya, DPR sebenarnya adalah sebutan untuk sebuah pekarangan mungil depan FPIPS yang nampak sangat sejuk karena dinaungi banyak pohon (alpukat, jambu air, jambu batu, dll). (lebih…)
Semenjak Gedung Teropong di ratakan dengan tanah dan berganti menjadi taman, keberadaan Sekretariat Jantera di pindahkan ke ruangan yang berada di lantai 2 FPIPS UPI, tepat di samping Kantor Departemen Pendidikan Geografi. Kondisi ruangan yang tak bisa menampung banyaknya barang operasional dan arsip data Jantera yang sudah berumur puluhan tahun, memaksa nyekre di luar kampus sebagai opsinya. Beberapa anggota harus rela kos-kosan nya di jadikan sebagai sekretariat.
Seingatku, ketika pertama kali nyekre di kos-kosan adalah di daerah geger arum. Saya tak pernah di ijinkan untuk bersua dengan tempat ini, ketika itu saya masih anak SMA yang belum terpikirkan untuk masuk Geografi UPI, bahkan masuk jantera. Tak banyak yang aku tahu tentang tempat ini, hanya beberapa cerita dari seniorlah yang membuatku bisa mereka-reka keadaan disana. Konon, tempatnya sempit, di dindingnya terpampang foto-foto kadat terakhir, dan naasnya ketika pindah ke tempat ini banyak barang yang hilang, penyebabnya bukan tak lain karena belum terbiasanya kami untuk berpindah tempat sekedar untuk nyekre di luar kampus. (lebih…)

