Sepanjang Lorong Gua Gelam
Catatan Diklanjut Angkatan 33
Air terjun! Itulah pertama kali yang terlintas dalam pikiran kami, ketika suara gemuruh air bergema di telinga. Kenyataannya, kami hanya bertemu dengan undakan yang membentuk sebuah air terjun kecil. Lorong-lorong gua menggemakannya, sehingga air terjun kecil itu terdengar seperti sebuah air terjun yang begitu deras. Ketika itu, kami baru menempuh setengah perjalanan menelusuri sebuah gua, namanya Gua Gelam. Tim kami berjumlah dua puluh orang yang dibagi menjadi beberapa kelompok: basecamp, penelusur dan pengukur.
Menuju Cikarang
Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog terletak 65 kilometer sebelah selatan dari pusat Kota Sukabumi, bisa ditempuh 5-6 jam dari Bandung dengan menggunakan kendaraan pribadi. Menggunakan angkutan umum, kita harus menunggu elf dari Terminal Jubleg di Sukabumi. Elf akan mengantarkan hingga Terminal Sagaranten. Dari sana tak ada angkutan umum menuju Cikarang. Pilihannya hanya ojek, sang supir sudah terbiasa membawa penumpang menjajal jalanan butut yang menegangkan. Jadi, nikmati saja perjalanannya!
Guha Gelam berada di Kampung Cimapag. Berjarak sekitar 2-3 kilometer dari pusat Desa. Dari sana, dari pusat Desa yang ada di Pasirhalang, Gua Gelam bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 60 menit, atau mengendarai sepeda motor dengan suasana perjalanan yang menegangkan karena kondisi jalanan berbatu bahkan di beberapa titik berupa jalan tanah merah yang licin ketika musim hujan.
Sebagai tempat ziarah, belajar dan arena petualangan
Menurut cerita masyarakat setempat, Gua Gelam merupakan salah satu gua —karena di sana terdapat belasan mulut gua— yang paling sering dikunjungi hingga membuatnya begitu popular. Kebanyakan dari kunjungan tersebut bermotif ziarah/spiritual. Alasannya, keberadaan patung Pandawa, ditambah dengan kepercayaan masyarakat mengenai kekuatan supranatural dari mata air Ci Kahuripan yang mengalir dari salah satu sudut lorongnya. Berbeda dari itu, kami berkunjung untuk menelusuri, mengukur dan mencoba memetakan lorong-lorongnya.
Mulut gua berada di sebuah lembahan di antara kebun karet. Sungai kecil mengalir di dasar lembah, airnya kemudian masuk melalui mulut gua menjadi sungai bawah tanah. Dari sanalah pengukuran dimulai. Di sekitar mulut gua, tak banyak ornamen yang kami temukan. Endapan tanah cukup tebal menutupi pinggiran lorong yang agak melandai. Aliran sungai bawah tanah menjadi kolam-kolam kecil pada lantai gua yang berundak, udang dan kepiting kami temukan di sana. Jika diusik, apalagi dibawa pulang, ekosistem gua secara keseluruhan bisa terganggu. Kami mengamati makhluk itu: memahami perilakunya, melihat warnanya yang hampir tembus pandang (transparan), kemudian mencoba memberi kesimpulan bahwa mereka(penghuni kegelapan gua) adalah makhluk luar biasa yang dapat hidup tanpa ketergantungan terhadap cahaya.
Pengukuran berlanjut dengan mengikuti arah aliran sungai. meskipun beberapa meter dari sana terdapat percabangan, Kami kira, aliran sungai merupakan pertanda bahwa lorong yang kami ukur adalah lorong utama. percabangan tersebut kami tunda untuk diukur. Jika memang aliran sungai masuk ke celah kecil yang tak dapat kami lalui, maka percabangan yang ditunda itu akan kami ukur kemudian. Dalam pemetaan Gua, menentukan arah pengukuran adalah tugas seorang leader.
Semakin dalam, suasana gua semakin gelap gulita. Kira-kira setengah perjalanan ketika kami mendengar suara gemuruh air. Semakin dekat, suara tersebut semakin menggemuruh. Dalam benak kami, ketinggian air terjun dengan debit air yang besar adalah medan yang akan kami hadapi di depan sana. Dugaan itu ternyata tak terbukti, sebab kami hanya bertemu dengan air terjun setinggi 1,5 meter berdebit kecil yang hanya mampu menciptakan kolam kecil setinggi mata kaki. Rupanya, lorong gua menggemakan suara desiran airnya hingga terdengar lebih keras daripada kenyataannya. Udang-udang tampak jelas berenang di kubangan itu, jumlahnya jauh lebih banyak daripada udang yang kami temukan sebelumnya. Mungkin, kolam inilah mata air Ci Kahuripan itu, mata air yang terkenal karena kekuatan supranaturalnya. Banyak yang sengaja datang untuk berdoa dan meminum airnya, bahkan membawa pulang dengan memasukkannya ke dalam botol-botol plastik. Di balik kepercayaan terhadap kekuatan supranaturalnya, dibalik kejernihannya, air gua banyak mengandung zat kapur. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, tentu tak baik bagi kesehatan.
Tak jauh dari kolam (pool) tadi, kami kembali dihadapkan pada percabangan lorong. Lorong pertama merupakan lorong dengan aliran sungai, yang kedua berupa sebuah tanjakan yang akan membawa kami pada ruangan yang lebih tinggi. Atas saran leader yang sudah melakukan penelusuran lebih dulu, pengukuran dilakukan pada lorong yang menanjak. Yah, sebuah pengecualian setelah sebelumnya lebih banyak memilih mengikuti aliran sungai. Saran leader sangat beralasan, karena ternyata percabangan tadi membawa kami pada ruangan besar yang kemudian kami sebut aula. Selain menjadi markas besar bagi kawanan kelelawar, Ornamen banyak kami temukan di salah satu sudut aula, menemani kami melakukan pengukuran. Di awal penelusuran memang tak banyak ornamen yang kami temukan, sehingga pemandangan tadi membuat kami bersemangat dalam mengukur. Patung Pandawa ternyata berupa jajaran stalagmit berukuran besar, jumlahnya memang genap lima buah, sesuai dengan Pandawa yang berjumlah lima orang.
Aula dengan panjang 70 meter dan lebar rata-rata 10 meter serta tinggi yang mencapai belasan meter itu menjadi pembeda karakteristik lorong Gua Gelam, lorong-lorong yang telah kami lewati sebelumnya memiliki lebar 3-5 meter dengan ketinggian 2-3 meter. Dasar aula berupa tumpukan batu, dari yang sebesar mobil hingga sebesar truk. Endapan tanah bercampur guano hampir menutupi seluruh permukaan batu itu, baunya sangat khas. Batu-batu tersebut tampak bertumpuk, mungkinkah aula tersebut terjadi karena runtuhan gua di masa lampau? Bagi kami, hal tersebut masih menjadi tanda tanya.
Selepas aula pengukuran kembali dilanjutkan mengikuti arah aliran sungai. Semakin lama, hawa dingin kian menjadi-jadi. Beberapa medan memaksa kami untuk berjalan jongkok bahkan merangkak. Karena itu, basah tentu tak bisa kami hindari. Semakin lama lorong semakin menyempit, hingga kemudian kami sampai pada lubang kecil berair yang tak dapat kami lalui. Di sanalah pengukuran kami akhiri. Beberapa percabangan lorong belum berhasil kami ukur, kami harus puas menjadikannya sebagai ‘PR’, toh sudah hampir 12 jam kami berada dalam gua. Tak ada pintu keluar, maka kami kembali ke titik awal penelusuran.
Potensi yang belum terkuak
Di Cikarang, selain Gua Gelam, masih banyak gua lain yang masih perlu dieksplorasi. Berdasarkan survey Jantera (Perhimpunan Pecinta Alam Geografi UPI) tahun 2005 terdapat 26 mulut gua, jumlah itu belum ditambah mulut gua yang kemungkinan terdapat pada daerah yang belum dikunjungi. Gua Gelam masih menjadi ‘PR’, tapi gua-gua di Desa Cikarang adalah ‘PR’ yang jauh lebih besar lagi . . .
Angga Resgiana Direza dan Siti Jubaedah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia. Anggota Jantera (Perhimpunan pencinta Alam Geografi FPIPS UPI).







1 Comment