Oleh: Muhamad Abdul Azis
Gempa yang terjadi di Lombok dan Palu menjadi perhatian khusus oleh masyarakat Indonesia. Setelah terjadi gempa di dua wilayah tersebut, masyarakat begitu memperhatikan potensi gempa yang ada di Indonesia. Wilayah Indonesia berada pada zona pertemuan lempeng Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia, dampaknya wilayah Indonesia memiliki potensi kegempaan yang kuat. Wilayah ini dikenal sebagai zona cincin api atau lebih akrab disebut ring of fire.
Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi merupakan pulau-pulau yang memiliki potensi kegempaan yang kuat, perhatian lebih menyorot pada Jawa karena kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya merupakan pusat perekonomian Indonesia. Ibukota Provinsi Jawa Barat Bandung memiliki potensi kegempaan yang kuat diantara kota-kota besar di Jawa, sumber kegempaan yang hingga kini masih aktif dikenal sebagai Patahan Lembang menimbulkan ketakutan bagi masyarakat Jawa Barat.
Hingga hari ini, gempa belum dapat diprediksi kapan dan dimana bencana itu akan terjadi begitu diwaspadai, termasuk oleh civitas akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Karena kampus UPI berjarak kurang lebih 8 km dengan Patahan Lembang. Kewaspadaan civitas akademik UPI perlu ditangani dengan pemahaman mitigasi bencana yang baik, supaya ketika gempa itu terjadi di lingkungan kampus UPI jumlah korban dan kerugian dapat diminimalisir.
Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Geografi Jantera sebagai organisasi mahasiswa yang berorientasi pada bidang kepecintaalaman dan keilmuan geografi, mengadakan kegiatan yang bertajuk One Day Trip Jantera 2018 untuk membantu civitas akademik UPI mengenali potensi kegempaan. Kegiatan yang diadakan pada Sabtu (20/10/2018) di Gunung Batu Lembang dengan tema Menggali Potensi Bencana Patahan Lembang disambut antusias oleh 39 orang peserta, bahkan peserta yang hadir tidak hanya meliputi mahasiswa UPI namun juga beberapa kampus lain, pelajar dan masyarakat umum.
Kegiatan dimulai pukul 06:30 ketika lingkungan kampus UPI masih terasa dingin dan embun masih basah, peserta berkumpul di lapangan parkir Islamic Tutorial Center (ITC) Al-Furqan UPI sebagai titik kumpul yang sudah ditentukan oleh panitia Jantera. Sambil menunggu angkutan kota (angkot) Lembang-Stasiun Hall Bandung yang sudah disewa oleh panitia, peserta diabsen dan diharuskan melunasi biaya kegiatan sebesar Rp. 30.000.
Setelah angkot datang, peserta langsung diarahkan masuk ke dalam mobil. Perjalanan UPI sampai Gunung Batu Lembang ditempuh sekitar 20 menit, dengan kondisi jalan yang belum terlalu padat karena biasanya diakhir pekan jalan Setiabudhi hingga Lembang begitu padat. Udara disekitar Gunung Batu Lembang masih begitu sejuk ketika peserta datang, tanah disekitar Gunung Batu Lembang begitu kering dan berdebu mungkin karena hujan yang belum mengguyur tanah disini.
Setibanya di Gunung Batu Lembang, panitia mengajak peserta untuk menaiki Gunung Batu Lembang tepat didasar tebing. Setibanya, peserta langsung mengeluarkan handphone dan kamera digital untuk melakukan swafoto dengan latar belakang pemandangan Lembang dari Gunung Batu Lembang. Kemudian peserta melanjutkan jalan ke puncak Gunung Batu Lembang karena kegiatan pematerian akan dilakukakan di puncak.
Kegiatan ini menghadirkan Hendro Martianto S.Pd M.Sc sebagai pemateri. “Patahan Lembang ini membentang dari timur ke barat dan berakhir di wilayah Padalarang. Masih aktif dan memiliki potensi kebencanaan yang kuat. Bahkan dampak yang ditimbulkan bisa lebih parah dari bencana yang terjadi di Palu dan Donggala,” paparnya. Aktifnya Patahan Lembang ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa Patahan Lembang masih terus bergerak setiap tahunnya.
Pemateri yang juga dosen Departemen Pendidikan Geografi menjelaskan bahwa gempa bukan bencana yang menyebabkan kematian. “Banyaknya korban itu akibat mereka tidak bisa menyelamatkan diri dari dampak gempa seperti rumah roboh, kebakaran, kecelakaan lalu lintas dan tertimbun longsor.” Pengetahuan mengenai mitigasi bencana menjadi kunci untuk meminimalisir banyaknya jumlah korban, “Jangan panik ketika gempa terjadi, lakukan langkah-langkah yang baik untuk menyelamatkan diri seperti bersembunyi dibawah meja yang kuat ketika posisi di dalam ruangan dan menuju tempat yang terbuka dan menjauhi bangunan yang kemungkinan roboh ketika posisi di luar ruangan.”
Tidak hanya menghadirkan Hendro Martianto S.Pd M.Sc, Jantera pun menghadirkan Setio Galih Marlyono S.Pd M.Pd sebagai alumni Jantera yang telah menyelesaikan program magister di Sekolah Pasca Sarjana UPI. Dirinya membicarakan pengalamannya dahulu ketika masih aktif berorganisasi. “Jantera itu selalu diandalkan ketika praktikum lapangan. Khususnya untuk dijadikan tim survey lapangan, karena Jantera itu mau untuk diajak peperiheun (menderita) seperti tidur cuma pakai flysheet (atap tenda). Tidak manja,” ungkapnya.
Sesi yang disebut sharing session ini diadakan untuk menarik minat mahasiswa Pendidikan Geografi 2018, Sains dan Informasi Geografi 2018 dan Survey Pemetaan dan Informasi Geografis 2018. Karena pada tahun ini, Jantera akan menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar Jantera 38. Sehingga diharapkan dari kegiatan ini dapat meningkatkan minat mahasiswa untuk bergabung pada Jantera.
Masyarakat Bandung diharapkan mengetahui potensi kegempaan Patahan Lembang dan pengetahuan mitigasi bencana harus ditekankan oleh dinas terkait, supaya ketika gempa terjadi jumlah korban dan kerugian dapat diminimalisir. Kegiatan yang dilakukan oleh Jantera diapresiasi positif oleh peserta, karena diyakini dari kegiatan ini dapat menjadi solusi alternatif mitigasi bencana gempa Patahan Lembang.
Lokasi kegiatan ini dikenal sebagai tempat yang cocok bagi pegiat alam Bandung Raya untuk menyalurkan olahraga panjat tebing. Gunung Batu merupakan bagian dari Patahan Lembang ini tersusun atas batuan andesit. Selain berfokus pada pematerian potensi kegempaan, kegiatan ini juga diisi dengan kegiatan panjat tebing dan pelatihan fotografi oleh anggota Jantera.
Peserta begitu antusias untuk mengikuti kegiatan panjat tebing, terlihat dari semangat mereka walau matahari begitu terik siang itu. Namun rasa penasaran dan ingin menaklukan tantangan lebih besar dalam diri mereka, satu persatu peserta mencoba jalur pemanjatan yang diberi nama Si Kidang. Banyak yang berhasil dan ada pula yang gagal, hal ini melengkapi kegiatan One Day Trip karena kegiatan ini mengusung jargon “Bermain Belajar bersama Jantera!” sehingga tidak hanya pengetahuan baru yang diperoleh oleh peserta tapi keseruan bermain pun menjadi bumbu penyedap cerita peserta.
Ketakutan dan kecemasan yang sebelumnya menghinggap perlahan pudar karena pengenalan yang baik terhadap sumber bencana. Upaya mitigasi bencana harus terus ditekankan kepada masyarakat, supaya jika nanti gempa terjadi masyarakat telah siap dan siaga. Dibalik kecemasan yang ditimbulkan oleh Patahan Lembang ternyata patahan ini memiliki pesona.
Banyak peserta yang ketagihan untuk melakukan kegiatan One Day Trip seperti yang diungkapkan oleh Sinta Febriyanti salah seorang peserta yang juga mahasiswa Pendidikan Geografi 2016. “Kapan Jantera mengadakan kegiatan seperti ini lagi? Jangan Cuma setahun sekali kalau perlu sebula sekali. Aku ketagihan,” ungkapnya setelah kegiatan berlangsung. Kegiatan diakhiri pukul 14:00 dengan kembali menggunakan angkot peserta diantarkan kembali ke titik kumpul awal di ITC Al-Furqan UPI. []
Artikel ini pernah dimuat pada laman https://www.ayobandung.com/read/2018/10/22/39490/belajar-menggali-potensi-bencana-patahan-lembang-sambil-bermain
0 Comments